Anak-anak yang menghabiskan masa kecil di Bali sering kali tidak merasakan ini sebagai kepulangan. Mereka meninggalkan tempat yang selama ini terasa seperti rumah. Teman bermain dan waktu di luar ruangan hilang dalam satu kali penerbangan. Banyak dari mereka adalah third culture kids yang tumbuh besar di Bali. Negara asal paspor bisa terasa asing meskipun kakek-nenek tinggal di sana.
Bagian yang sulit adalah rutinitas harian, bukan penerbangannya. Jam sekolah berlangsung lebih panjang dan lebih ketat daripada di Bali. Orang tua mengerjakan sendiri semua urusan rumah yang biasanya dibantu asisten rumah tangga. Anak-anak yang biasa berjalan kaki ke warung sepulang sekolah kini duduk di mobil menunggu jemputan. Catatan mengenai apakah Bali surga keluarga atau sekadar strategi pemasaran adalah gambaran kehidupan sehari-hari yang lebih nyata dibanding foto vila mana pun.
Pertahankan ritual kecil yang biasa dilakukan di Bali (lagu tidur yang sama, sarapan Minggu yang sama). Biarkan anak-anak menyimpan beberapa barang dari rumah lama. Jangan menuntut mereka untuk merasa bersyukur karena sudah pulang. Tanyakan bagaimana suasana di sekolah baru, lalu dengarkan. Saat anak-anak bercerita tentang taman umum dan tempat bermain yang biasa mereka kunjungi di Bali, pilih satu taman lokal dan kunjungi pada hari yang sama setiap minggu.
Have a follow-up about your own situation?
Ask the Knowmads family guide