Seperti apa homeschooling atau unschooling bagi keluarga ekspat di Bali?

Homeschooling lazim di kalangan keluarga ekspat di Bali, mulai dari kurikulum daring terstruktur hingga unschooling bebas. Sebagian besar keluarga bergabung dengan co-op atau learning pod untuk bersosialisasi, menyewa tutor lokal untuk bahasa atau olahraga, dan tetap terhubung dengan sekolah di negara asal untuk pencatatan nilai. Indonesia tidak mengatur cara warga asing mendidik anak-anak mereka sendiri.

By the Knowmads Bali family — parents on the ground in Bali · Updated 5 August 2026

Bali menarik banyak keluarga homeschooling karena ritme hidup di pulau ini tidak selalu cocok dengan jadwal bel sekolah. Orang tua berselancar saat fajar, bekerja jarak jauh, dan bepergian untuk visa run, sehingga jadwal kelas yang kaku terasa kurang pas untuk rutinitas mingguan mereka. Daftar tunggu dan komitmen satu tahun penuh di sekolah internasional mendorong sebagian keluarga beralih ke homeschooling, terutama bagi anak-anak di bawah sepuluh tahun. Sebagian lainnya sudah ber-homeschooling sejak di negara asal dan tinggal melanjutkannya di sini, tertarik oleh waktu di luar ruangan, kelompok teman lintas usia, serta ritme hidup yang lebih santai.

Dalam praktiknya, penerapannya berbeda di tiap rumah tangga. Sebagian keluarga menjalankan kurikulum daring dari rumah—terkadang kurikulum yang sama seperti sebelum pindah—dan menjadikan Bali sebagai latar belakang, bukan kurikulum itu sendiri. Sebagian lainnya memilih unschooling: les selancar dihitung sebagai olahraga, ke pasar menjadi pelajaran matematika, dan menyusuri sawah berundak menjadi pelajaran biologi. Grup Facebook dan utas pesan di Canggu, Ubud, dan Sanur menjadi tempat sebagian besar keluarga menemukan learning pod, berbagi tutor untuk beberapa anak, atau bertukar keahlian (satu orang tua mengajar seni, yang lain memandu kelompok membaca). Koneksi internet bisa terputus, sehingga keluarga yang mengandalkan kelas daring interaktif biasanya menyiapkan cadangan, seperti rekaman pelajaran atau kartu SIM lokal untuk hotspot.

Indonesia tidak mengawasi bagaimana warga negara asing mendidik anak mereka sendiri di rumah, jadi tidak ada administrasi lokal yang perlu diurus untuk homeschooling itu sendiri. Hal yang perlu diselesaikan keluarga adalah status visa, karena izin tinggal jangka panjang bergantung pada sponsor, visa bisnis, atau izin tinggal yang terikat dengan pekerjaan orang tua, bukan pilihan sekolah anak. Banyak orang tua tetap mendaftarkan anak secara resmi di sekolah jarak jauh atau umbrella school di negara asal agar memiliki transkrip dan riwayat akademik jika keluarga berpindah lagi atau anak ingin kembali ke sekolah konvensional nantinya. Sosialisasi terbentuk lewat klub selancar, tim olahraga, kelas seni, dan jaringan homeschooling yang lebih luas daripada satu lingkungan sekolah saja, yang cocok bagi sebagian anak dan memerlukan penyesuaian bagi yang lain.

Have a follow-up about your own situation?

Ask the Knowmads family guide