Apakah air keran di Bali aman untuk bayi dan anak-anak?

Tidak. Air keran di seluruh Bali tidak diolah hingga berstandar layak minum, bahkan di vila dan hotel, sehingga bayi dan anak-anak sebaiknya hanya mengonsumsi air rebusan, air filter rumahan, atau air kemasan bersegel. Ini mencakup air minum, melarutkan susu formula, berkumur setelah sikat gigi, dan es batu dalam minuman kecuali Anda tahu es tersebut dibuat dari air yang telah dimurnikan.

By the Knowmads Bali family — parents on the ground in Bali · Updated 30 July 2026

Air keran di Bali tidak melalui sistem pengolahan dan perpipaan yang membuatnya aman untuk langsung diminum, baik di vila sewaan, hotel, maupun rumah warga. Hal ini berlaku di seluruh pulau, bukan hanya di area yang kurang berkembang. Merebus air selama beberapa menit membunuh bakteri dan parasit penyebab sebagian besar gangguan pencernaan di sini, dan ini adalah solusi termudah jika Anda tidak memiliki filter atau persediaan air kemasan. Memandikan bayi dan anak-anak dengan air keran tetap aman: kontak kulit tidak berisiko, yang berisiko adalah jika tertelan.

Untuk kebutuhan sehari-hari, sediakan galon air isi ulang (umum di sebagian besar dapur di Bali, diantar oleh layanan air lokal) atau air kemasan botol, dan gunakan untuk minum, membuat susu formula, membuat es, serta membilas sikat gigi setelah menyikat. Banyak keluarga juga memasang filter di atas meja dapur atau di bawah wastafel jika tinggal lebih lama, yang menghemat plastik dan pengiriman galon. Mencuci buah dan sayur dengan air keran boleh saja, tetapi membilasnya dengan air matang atau air filter setelahnya adalah kebiasaan baik untuk bayi yang baru mulai makanan padat. Restoran dan kafe untuk wisatawan serta ekspatriat umumnya menggunakan air filter atau air kemasan untuk es dan memasak, tetapi ada baiknya bertanya jika Anda ragu, terutama untuk bayi yang masih sangat kecil.

Jika anak Anda mengalami gangguan pencernaan, diare ringan atau muntah selama sekitar sehari adalah hal yang umum saat anak beradaptasi dan biasanya membaik dengan istirahat, ASI atau susu formula, dan larutan rehidrasi oral (oralit). Perhatikan tanda-tanda dehidrasi: popok basah berkurang, tidak ada air mata saat menangis, rasa kantuk yang tidak biasa, atau ubun-ubun cekung pada bayi, dan segera ambil tindakan tanpa menunggu. Untuk bayi berusia di bawah beberapa bulan, atau jika gejala berlangsung lebih dari satu atau dua hari, disertai demam, atau jika Anda khawatir, segera periksakan ke dokter atau klinik alih-alih menduga-duga. Bali memiliki klinik anak dan rumah sakit yang terbiasa menangani keluarga lokal maupun internasional, dan memeriksakannya sejak dini selalu merupakan langkah yang lebih aman.

This is general information, not medical advice. For anything specific to your child, please consult a doctor or a travel-health clinic.

Have a follow-up about your own situation?

Ask the Knowmads family guide